Banyak Orang Bilang Kalau Mereka Lebih Ingat Suasana Ketika Ngopi Daripada Rasa Dari Kopi Itu Sendiri, Kok Bisa?
Social media dan marketplace kami:
+62 853-7252-5758

Banyak Orang Bilang Kalau Mereka Lebih Ingat Suasana Ketika Ngopi Daripada Rasa Dari Kopi Itu Sendiri, Kok Bisa?


Kenapa Pelanggan Lebih Ingat Suasana daripada Rasa Kopinya?

Pasti banyak pemilik warung kopi atau mereka yang menjual kopi yang percaya kalau kunci utama supaya pelanggan nya bisa datang dan balik lagi adalah rasa dari kopi itu sendiri. Logika sederhana nya, kalau rasa kopinya enak, orang pasti akan kembali untuk beli lagi. Sedangkan realita nya sering menunjukkan hal lain. Contohnya, ada warkop yang menjual kopi dengan rasa yang biasa saja bahkan cenderung standar dan tidak ada uniknya, tapi tempatnya selalu ramai dari pagi sampai malam. Dan sebaliknya, ada juga warkop yang menyajikan kopinya yang secara teknis bisa menghasilkan rasa yang lebih konsisten, lebih sesuai, tapi kursinya sering kosong. Nah dari sini yang sering dipertanyakan berarti menjual kopi di warkop itu bukan cuma soal rasa kopi nya saja, tapi juga soal apa yang sebenarnya pelanggan rasakan bahkan bisa mereka ingat setelah mereka pulang ngopi dari sebuah warkop.

Kebanyakan ketika orang datang ke warkop atau ke kedai-kedai kopi lainnya, yang pertama kali mereka utamakan bukan rasa kopi nya, tapi suasana untuk bisa menikmati kopi nya. Dari langkah pertama mereka masuk, otak mereka bisa langsung menangkap banyak hal sekaligus. Misalnya, apakah tempatnya terasa hangat atau suram, apakah suasana nya membuat santai atau malah canggung, juga apakah penjaganya ramah atau cuma diam saja. Semua ini bisa terjadi dan diamati bahkan sebelum pesanan kopi nya selesai di seduh dan disajikan. Rasa dari kopi itu sendiri baru akan bisa dinilai ketika sudah beberapa kali tegukan, sedangkan kalau suasana tempat ngopi nya bisa langsung dinilai dan menjadi kesan awal dari tempatnya. Karena itulah kenapa banyak orang bisa lupa detail rasa kopi nya seperti apa, tapi masih ingat perasaan ketika mereka pertama kali duduk di tempat itu.

Suasana dari tempat kopi memang tidak dinilai kecuali dengan cara datang ke tempat nya langsung. Ketika seseorang merasa nyaman, otaknya akan cenderung bisa lebih tolera terhadap hal-hal kecil yang kurang sempurna. Misal ternyata kopinya yangs sedikit terlalu pahit, rasanya kurang manis, atau rasanya yang tidak konsisten sering kali masih bisa diterima karena suasana di tempatnya yang nyaman. Sebaliknya, ketika suasana nya terasa kaku membuay tidak nyaman, sepi atau sunyi yang berlebihan, atau bahkan penjaga nya yang terlihat acuh dan tidak peduli bisa membuat kopi yang rasanya enak sekalipun jadi terasa biasa saja. Semua bisa terjadi bukan karena rasanya yang tiba-tibsa berubah, tapi suasanya ketika minum kopinya yang terganggu.

Kalau di warkop biasanya ngopi itu jarang dinikmati sendirian. Dalam artian kopi biasanya dinikmati dengan obrolan, canda tawa, keluhan hidup, bisa juga dengan tambahan rokok dan gorengan. Dalam kondisi seperti ini, rasa dari kopi bukan lagi jadi perhatian utama nya. Tapi yang lebih penting adalah apakah di tempat itu kita bisa menikmati kopi sesuai yang kita mau, tidak ada perasaan diawasi, atau bahkan bisa sekedar duduk tanpa ada perasaan untuk harus segera buru-buru pergi. Warkop yang berhasil jadi tempat pulang pelanggan nya biasanya adalah warkop yang secara tidak sadar sudah menjadi ruang sosial, bukan lagi sekadar tempat jual minuman saja.

Hal lain yang menariknya adalah, rasa kopi itu cenderung abstrak dan sulit diingat secara detail. Ketika ditanya tentang rasa kopi yang diminum kemarin, kebanyakan orang hanya bisa menjawab “enak”, “lumayan”, atau “biasa aja”. Jarang sekali ada yang bisa menjelaskan rasa dengan rinci. Tapi sebaliknya, berbeda dengan suasana tempat yang jauh lebih mudah diceritakan. Orang bisa bilang tempatnya tenang, ramai tapi nyaman, atau sederhana tapi bisa bikin betah. Cerita-cerita seperti inilah yang kemudian menyebar dari mulut ke mulut dan membuat sebuah warkop jadi lebih dikenal.

Suasana juga bisa jauh lebih konsisten daripada rasa. Rasa kopi bisa gampang berubah karena banyak faktor misalnya seperti air, cara menyeduh, orang yang menyeduh, atau stok bahan yang dipakai. Tapi suasana yang dijaga dengan baik cenderung bisa lebih stabil. Ketika pelanggan datang dan menemukan perasaan yang sama seperti kunjungan nya sebelumnya, mereka bisa merasa lebih nyaman dan familiar. Dari sinilah kebiasaan jadi terbentuk. Orang tidak datang karena mencari kejutan rasa kopi saja, tapi karena ingin mengulang perasaan yang sama ketika menikmati kopi nya.

Hal lain yang sering tidak disadari adalah bahwa suasana itu sulit ditiru. Kopi bisa dibeli dari supplier yang sama, diseduh dengan resep yang serupa, bahkan dijual dengan harga yang tidak jauh berbeda. Tapi suasana yang terbentuk dari interaksi, kebiasaan pelanggan, dan ritme warkop tidak bisa begitu saja disalin. Itulah kenapa banyak warkop kecil bisa bertahan lama meski kopinya tidak se-istimewa kopi di kedai atau cafe kekinian.

Namun pada akhirnya, ini bukan tentang memilih untuk mengutamakan rasa kopi atau suasana nya saja. Keduanya tetap penting. Kopi yang buruk akan sulit ditoleransi, sebaik apa pun suasananya. Tapi untuk di warkop, selama kopi bisa disajikan dengan layak dan konsisten, suasanalah yang menentukan apakah orang akan kembali lagi atau tidak. Pelanggan mungkin bisa mudah lupa dengan rasa kopi yang mereka minum minggu lalu, tapi mereka akan selalu ingat apakah mereka merasa nyaman dan betah saat duduk dan minum kopi di sana.

Dan di dunia warkop, perasaan ketika ngopi itu sering kali jauh lebih diingat daripada rasa kopi di lidah. Apa kamu setuju dengan hal ini?

Comments are closed.