Kenapa Hanya Barista Kafe yang Selalu Dianggap Ahli Menyeduh Kopi?
Social media dan marketplace kami:
+62 853-7252-5758

Kenapa Hanya Barista Kafe yang Selalu Dianggap Ahli Menyeduh Kopi?

Dalam dunia kopi yang semakin berkembang seperti sekarang ini, istilah “barista” sudah jadi label prestise. Seorang barista sering digambarkan sebagai sosok profesional yang pandai dalam meracik espresso, menggambar kopi dengan latte art yang cantik, juga mengenakan apron kulit sambil berdiri di balik mesin kopi yang mahal. Nah tapi kadang yang jadi pertanyaannya adalah, kenapa hanya barista di kafe yang sering dianggap “ahli”? Bagaimana dengan tukang seduh kopi di warung pinggir jalan, di stasiun, atau di kios kecil yang tiap harinya juga menyajikan kopi untuk ratusan pelanggan?

Apa mereka tidak cukup layak menyandang gelar yang sama?


Kata “Barista” dan Aura Elitnya

Secara harfiah, barista berasal dari bahasa Italia yang artinya pelayan bar. Tapi dalam konteks modern sekarang ini, istilah barista merujuk pada seseorang yang ahli dalam menyeduh kopi, khususnya yang menyeduh kopi dengan menggunakan metode espresso. Profesi ini cukup populer bersamaan sejak gelombang kopi ketiga (third wave coffee), di era ini banyak gerakan yang menekankan tentang kualitas biji kopi, transparansi asal-usul kopi yang diseduh, dan juga teknik seduh yang perfect.

Namun dengan seiring berjalannya waktu, barista berubah jadi lebih dari sekadar profesi. Istilah barista seolah sudah menjadi simbol gaya hidup, status, bahkan kreativitas. Kafe-kafe kekinian banyak yang menampilkan barista sebagai seorang “seniman rasa”, berada di balik meja bar yang lengkap dengan pencahayaan estetik, nama-nama menu eksotis, dan tentu saja biasanya juga dengan harga setiap menu nya yang nggak murah.

Nah di titik ini akhirnya muncul kesenjangan persepsi, yang pada intinya kalau kamu bekerja di kafe keren dan pegang mesin espresso, kamu layak disebut barista. Tapi kalau kamu cuma menyeduh kopi tubruk di warung saja, kamu cuma “tukang kopi.”

Padahal kalau dipikir-pikir, tugas mereka kan hampir sama, yaitu sama-sama menyeduh kopi yang enak untuk disajikan ke para pelanggan.


Skill Tanpa Sertifikat

Salah satu alasan kenapa barista di kafe dianggap lebih “ahli” adalah karena mereka punya pelatihan formal sebelum mulai menyeduh dan menyajikan kopi di kafe. Banyak kafe yang mewajibkan baristanya ikut kelas, kursus, bahkan sertifikasi dari lembaga-lembaga kopi internasional. Di sisi lain, tukang kopi di warung kopi tradisional biasanya belajar dari pengalaman. Memang jadinya tidak ada sertifikat, tapi ada jam terbang. Mereka juga bisa tahu selera pelanggannya. Mereka tahu harus pakai air seberapa panas, berapa sendok kopi, dan bahkan tahu siapa pelanggan yang suka kopi pahit tanpa gula.

Tapi karena mereka tidak memakai apron atau badge khusus yang menunjukkan kalau mereka juga menyeduh kopi, ilmunya jadi sering dianggap biasa aja. Padahal, bisa menyajikan kopi yang enak dan sesuai dengan permintaan pelanggan, apa itu juga bukan sebuah keahlian?

Coba deh bayangkan, misalnya ada bapak-bapak di warung kopi pasar yang setiap hari menyeduh 200 cangkir kopi tubruk untuk pelanggan tetap nya, tanpa menggunakan takaran digital, tanpa timer untuk tahu berapa lama kopi nya diseduh, tapi mereka tetap bisa memastikan konsisten rasanya. Menyeduh kopi sebanyak ini dan bisa menghasilkan rasa yang selalu sama, pastinya ini bukan dilakukan dengan asal-asalan kan? Itu adalah hasil dari proses yang panjang dan penuh intuisi yang dilakukan terus-menerus, sesuatu yang kadang tidak diajarkan dalam kursus barista.


Budaya dan Perbedaan Kelas Sosial

Kita juga nggak bisa menutup mata bahwa persepsi ini juga dibentuk oleh budaya dan kelas sosial. Kafe biasanya berada di lingkungan kota, dengan interior cantik, AC, dan menu unik berbahasa Inggris. Sedangkan warung kopi biasanya ada di gang sempit, di dekat terminal atau pasar. Selalu identik dengan murah, sederhana, dan apa adanya.

Akibatnya persepsi masyarakat pun ikut terbentuk juga, banyak orang yang menganggap kopi dari kafe dirasa lebih “berkualitas”, sedangkan kopi warung dianggap “biasa aja”. Padahal, kualitas rasa kopi tidak melulu tergantung tempat atau mesin yang dipakai. Banyak kopi warung yang dibuat dari biji robusta lokal yang kaya rasa, diseduh dengan teknik tradisional yang justru lebih dekat dengan akar budaya ngopi Indonesia.

Dan uniknya, tren specialty coffee sekarang ini justru banyak yang mulai mengangkat metode-metode yang dulu dianggap “ndeso” seperti kopi tubruk, kopi klothok, kopi saring, sampai kopi manual ala Vietnam. Tapi tetap saja, kalau yang menyeduh kopi ini bukan barista bersertifikat, biasanya kopi yang disajikan juga seolah-olah jadi kurang sah.

Mungkin sudah saatnya kita melepaskan citra sempit soal siapa itu barista sebenarnya. Profesi ini bukan hanya milik mereka yang bekerja di kafe kekinian atau yang punya apron kulit dan portafilter mahal saja. Siapapun yang serius menyeduh kopi dan memahami setiap pelanggan nya juga layak disebut sebagai barista.

Tentu saja, bukan berarti kita meremehkan barista-barista yang sudah profesional. Mereka punya keahlian luar biasa dalam teknik dan pengolahan kopi. Tapi mari kita akui juga tukang kopi di warung tradisional yang punya keahlian lain yang sama pentingnya dalam menghadirkan rasa yang akrab, menyeduh kopi dengan hati, dan menjaga tradisi ngopi.

Kalau barista adalah mereka yang bisa menghidupkan kopi, maka semua penyeduh kopi di manapun ia berada, adalah barista juga kan?


Dunia kopi seharusnya bukan cuma soal siapa yang lebih hebat atau siapa yang lebih elit saja. Tapi soal bagaimana kita bisa menghargai rasa, proses, dan orang-orang di baliknya dalam menyajikan kopi mulai dari awal kopi itu ditanam hingga bisa dinikmati di secangkir kopi.

Barista di kafe dan tukang kopi di warung sama-sama punya peran penting. Yang satu membawa inovasi dalam dunia kopi, yang satunya lagi menjaga tradisi ngopi. Dan pastinya keduanya bisa saling melengkapi, bukan bersaing.

Jadi, lain kali waktu kamu minum kopi, entah itu di kafe modern atau di warung pinggir jalan, ingatlah bahwa di balik cangkir itu ada orang-orang yang bekerja dengan hati. Dan siapa pun dia dimana pun dia berada, dia juga layak disebut sebagai barista.

Comments are closed.