Kenapa Kopi Tubruk Nggak Pernah Punah Padahal Ada Banyak Menu Kopi yang Baru?
Social media dan marketplace kami:
+62 853-7252-5758

Kenapa Kopi Tubruk Nggak Pernah Punah Padahal Ada Banyak Menu Kopi yang Baru?

Sekarang ini di dunia kopi itu rasanya makin ramai. Banyak menu baru yang bertambah, istilah tentang kopi ada makin banyak, cara seduh juga makin beragam. Ada yang menyeduh kopi pakai alat mahal, ada yang pakai teknik khusus, ada yang namanya terdengar sangat asing sampai harus dibaca dua kali. Setiap beberapa bulan seperti selalu ada saja tren baru yang muncul, entah itu metode seduh tertentu atau racikan yang lagi viral di media sosial. Dunia kopi seperti bergerak dengan cepat, terus berubah, dan terus ada hal-hal baru lainnya.

Tapi di tengah semua itu, ada satu jenis kopi yang tetap diam di tempatnya dan tidak ikut mengalami perubahan, tidak ikut di ributkan, tidak ikut di ganti tampilan nya, tapi juga tidak pernah hilang, kopi yang dimaksud adalah kopi tubruk.

Kopi tubruk itu sangat sederhana sampai kadang dianggap sebagai kopi yang terlalu biasa. Bubuk kopi dimasukkan ke gelas, lalu disiram air panas, diaduk, dan selesai. Tidak ada filter yang memisahkan ampas kopi dan air nya, tidak ada alat ukur yang presisi, tidak perlu waktu panjang untuk membuatnya. Bahkan banyak orang yang sependapat, kalau kopi tubruk ini merupakan cara paling dasar untuk menikmati kopi. Karena justru dari kesederhanaan itu, kopi tubruk punya kekuatan cita rasa yang khas yang sulit tergantikan.

Kopi tubruk tidak akan diubah agar bisa terlihat modern. Tidak perlu mengikuti tren, tidak perlu berganti nama, dan tidak perlu berubah jadi lebih “instagramable”. Rasanya tetap khas yang kadang pahit, kadang sedikit kasar di ujung lidah. Ampas kopinya mengendap di dasar gelas, mengingatkan bahwa ini kopi memang diseduh apa adanya dan tidak disaring, dan tidak akan dipermasalahkan oleh pelanggan juga.

Banyak orang yang tidak sadar kalau mereka sudah tumbuh bersama kopi tubruk. Dari kecil sudah melihat orang tua atau kakeknya menyeduh kopi dengan cara yang sama. Dengan ciri utama ketika menyeduh kopi tubruk yang biasanya ditandai dengan suara sendok ketika mengaduk gelas, kopi disajikan dengan suhu panas dengan uap panas nya yang akan terus naik perlahan. Hal sederhana ini juga menjadi memori yang susah dilupakan dan tidak mudah digantikan oleh menu baru, sehebat apa pun namanya.

Kalau di warung kopi, kopi tubruk hampir seperti bahasa kopi yang bisa semua orang pahami. Kadang bahkan tidak perlu disebut. Kamu bisa pesan menu satu ini dengan cukup bilang, “Kopi hitam satu,” dan yang datang adalah segelas kopi tubruk panas dengan aroma yang langsung terasa. Tidak akan ada yang menanyakan pertanyaan lanjutan seperti metode seduh nya pakai apa atau pilihan profil rasa nya bagaimana.

Menariknya, menikmati kopi tubruk ini juga bisa fleksibel. Mau diminum cepat sebelum berangkat kerja, bisa. Mau ditemani ngobrol panjang sampai malam, juga bisa. Jadi tidak ada waktu khusus nya kapan atau suasana nya harus seperti apa agar kopi tubruk ini bisa dinikmati. Di rumah pun juga sama. Saat tidak ada alat apa-apa selain bubuk kopi dan air panas, kopi tubruk selalu jadi jawaban paling praktis untuk menyeduh kopi. Tidak ribet, tidak perlu persiapan panjang, tapi tetap bisa menghasilkan rasa kopi yang khas.

Ada juga diskusi mengenai soal rasa di kopi tubruk yang tidak bisa diabaikan. Karena diseduh dengan tidak disaring, karakter kopi nya akan terasa lebih penuh. Body-nya lebih tebal, aromanya lebih terasa langsung, dan pahitnya juga lebih terasa. Buat sebagian orang mungkin rasa kopi tubruk ini terlalu kuat, tapi buat yang memang suka kopi yang rasanya kopi banget, justru di situlah nikmatnya kopi tubruk. Semua rasa bisa hadir utuh di kopi tubruk.

Sementara itu, menu-menu di kopi baru terus bermunculan dengan berbagai keunikan. Dan itu memang hal yang bagus karena berarti dunia kopi sedang berkembang, dan eksperimen membuat pilihan rasa kopi juga jadi lebih banyak. Tapi dengan adanya perkembangan tidak selalu berarti yang lama harus dihilangkan kan? Kadang yang lama juga bisa tetap bertahan bukan karena tidak ada pilihan lain, tapi karena memang masih relevan.

Bahkan ada banyak yang berpendapat kalau kopi tubruk itu bisa menyampaikan rasa kopi yang jujur. Yang dimaksudkan jujur disini adalah, rasa dari kopi tubruk itu merupakan rasa asli dari kopi itu sendiri. Kamu bisa merasakan rasa pahit asli dari kopi nya, dan kalaupun ada rasa manis di kopinya ya pasti karena sudah ditambahkan gula. Jadi kopi tubruk itu memang seharusnya dibuat apa adanya tanpa ada tambahan apapun.

Selama masih ada warung kopi yang buka dari pagi sampai malam, selama masih ada orang yang ingin duduk santai tanpa ribet memilih menu, dan selama masih ada yang menikmati pahit asli kopi tanpa perlu banyak tambahan lain, kopi tubruk tidak akan punah. Mungkin tidak jadi yang paling viral di dunia kopi, tidak jadi yang paling sering difoto, tapi kopi tubruk ini akan tetap ada di dalam menu.

Comments are closed.